Transisi dari dunia akuntansi menuju orkestrasi AI membuktikan bahwa keahlian domain industri tetap tidak tergantikan, karena teknologi AI justru melipatgandakan nilai pengalaman manusia dengan cara mengotomatisasi pekerjaan administratif dan mempercepat analisis data.
Awalnya saya takut AI akan menggantikan saya. Setelah dipikir-pikir, ternyata yang terjadi justru sebaliknya. AI membuat 14 tahun pengalaman saya menjadi semakin bernilai.
Sebagai orang yang menghabiskan lebih dari 14 tahun di dunia accounting dan finance, saya punya gambaran yang cukup jelas tentang masa depan karier saya.
Kemungkinan besar saya akan semakin tenggelam dalam dunia yang sudah saya kenal.
Laporan keuangan.
Budgeting.
Cash flow.
Audit.
Tutup buku bulanan.
Forecasting.
Dan berbagai pekerjaan lain yang menjadi makanan sehari-hari seorang praktisi keuangan.
Bukan berarti saya tidak menikmatinya.
Justru sebaliknya.
Saya menyukai dunia yang penuh angka, logika, dan sistem.
Karena itu saya mengira masa depan saya akan berada di sana.
Menjadi semakin ahli di bidang yang sama.
Mengelola data yang semakin banyak.
Membuat laporan yang semakin cepat.
Membangun dashboard yang semakin rapi.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa teknologi yang paling mengubah cara saya bekerja bukanlah dashboard.
Melainkan AI.
Ketika Bayangan Itu Mulai Memudar
Awalnya saya mengenal AI seperti kebanyakan orang.
Mencoba ChatGPT.
Bermain-main dengan prompt.
Meminta AI membantu menulis.
Merangkum dokumen.
Membantu analisis.
Tidak lebih dari itu.
Tetapi semakin lama saya menggunakannya, semakin saya melihat sesuatu yang berbeda.
AI bukan hanya membantu saya bekerja lebih cepat.
AI membuka pintu ke area yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan bisa saya masuki.
Ide yang Selama Ini Hanya Ada di Kepala
Selama bertahun-tahun bekerja di finance, saya sering menemukan masalah operasional yang menurut saya bisa diselesaikan dengan software.
Masalah pencatatan.
Masalah cash flow.
Masalah laporan.
Masalah monitoring.
Masalah operasional harian.
Ide-ide itu selalu ada.
Tetapi berhenti di kepala.
Karena saya bukan programmer.
Saya tidak tahu cara membuat aplikasinya.
Hari ini situasinya berbeda.
Dengan bantuan AI, saya bisa mengubah ide menjadi sesuatu yang benar-benar bisa digunakan.
Saya mulai membuat aplikasi kasir.
Membangun software accounting.
Mengembangkan ERP.
Membuat dashboard.
Membangun berbagai tools yang dulu hanya menjadi catatan kecil di buku atau file Excel.
Untuk pertama kalinya, jarak antara ide dan eksekusi menjadi jauh lebih pendek.
Menyentuh Area yang Dulu Tidak Bisa Saya Masuki
Yang lebih mengejutkan lagi, AI membawa saya ke ruang-ruang yang sebelumnya terasa jauh dari dunia finance.
Salah satunya adalah marketing dan sales.
Selama bertahun-tahun saya selalu percaya bahwa uang perusahaan berasal dari sana.
Dari penjualan.
Dari pelanggan.
Dari pemasaran yang efektif.
Tetapi saya tidak pernah benar-benar terlibat di dalamnya.
Saya lebih sering berada di bagian hilir.
Mencatat hasilnya.
Menganalisis hasilnya.
Mengevaluasi hasilnya.
Hari ini saya bisa ikut masuk ke area tersebut.
Bukan karena tiba-tiba menjadi marketer.
Bukan karena berubah menjadi sales profesional.
Tetapi karena AI membantu menjembatani keterbatasan yang sebelumnya saya miliki.
Melalui Visia, dibantu AI Agent, hari-hari saya sekarang diisi dengan berbagai aktivitas yang dulu terasa jauh dari dunia accounting.
Membuat landing page.
Menulis artikel SEO.
Melakukan riset.
Merancang produk.
Menguji ide bisnis.
Bahkan membangun sistem sales yang berjalan lebih terstruktur.
Hal-hal yang dulu hanya bisa saya amati dari kejauhan, sekarang bisa saya kerjakan sendiri.
Dari Finance Menjadi Builder
Semakin lama menggunakan AI, saya semakin sadar bahwa yang berubah bukan hanya cara saya bekerja.
Yang berubah adalah cara saya membangun sesuatu.
Dulu saya hanya bisa mengidentifikasi masalah.
Hari ini saya bisa ikut membangun solusinya.
Saya tidak lagi sekadar melihat masalah pencatatan.
Saya bisa membuat aplikasinya.
Saya tidak lagi sekadar mengeluhkan proses yang tidak efisien.
Saya bisa membangun workflow dan automasinya.
Saya tidak lagi hanya menganalisis bisnis orang lain.
Saya bisa membangun produk saya sendiri.
AI membuat jarak antara ide dan implementasi menjadi jauh lebih pendek.
Dari Builder Menjadi Orchestrator
Semakin lama saya menggunakan AI, semakin saya sadar bahwa yang saya bangun bukan sekadar aplikasi.
Yang saya bangun adalah sistem kerja.
Melalui membangun Visia OS dan Pandawa AI, saya mulai mengembangkan AI Agent yang membantu berbagai aktivitas sesuai framework Visia Value Creation (VVC):
- Research: membantu riset akademik dan riset bisnis
- Product: membantu membangun dan mengembangkan produk
- Sales: membantu menjawab pertanyaan pelanggan dan melakukan follow up
- Profit: membantu memantau kinerja operasional dan profitabilitas
- Cash: membantu memonitor kesehatan arus kas bisnis
Bukan untuk menggantikan manusia.
Tetapi untuk membantu manusia bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih terukur.
AI Membuka Pintu yang Sebelumnya Tidak Pernah Terbuka
Ada satu hal menarik yang beberapa kali saya alami belakangan ini.
Saya cukup aktif di beberapa grup dan komunitas AI.
Biasanya saya berbagi pengalaman tentang eksperimen yang sedang saya lakukan, aplikasi yang saya bangun, atau bagaimana saya menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari.
Yang mengejutkan, beberapa orang kemudian menghubungi saya secara pribadi.
Bukan untuk bertanya tentang prompt.
Bukan juga tentang model AI terbaru.
Mereka justru bertanya tentang finance.
Ada yang bertanya soal cash flow.
Ada yang bertanya soal akuntansi.
Ada yang bertanya apakah saya membuka peluang kolaborasi untuk proyek-proyek terkait keuangan.
Awalnya saya merasa agak aneh.
Saya sedang berada di komunitas AI, tetapi yang dicari justru pengalaman finance saya.
Lama-lama saya mulai memahami polanya.
AI membuat saya lebih mudah terlihat.
Tetapi yang dicari orang tetaplah pengalaman yang saya bangun selama bertahun-tahun.
AI menjadi jembatan yang mempertemukan saya dengan lebih banyak orang.
Namun nilai yang saya bawa ke dalam percakapan tetap berasal dari pengalaman 14 tahun di accounting dan finance.
Dan itu semakin menguatkan satu kesimpulan yang saya pelajari belakangan ini.
AI mungkin bisa mempercepat pekerjaan.
Teknologi ini mempermudah proses belajar AI dari nol, tetapi pengalaman tetap menjadi pembeda utama.
Ternyata Saya Salah Tentang AI
Di awal perjalanan, saya sempat memiliki kekhawatiran yang mungkin juga dirasakan banyak orang.
Bagaimana kalau AI menggantikan saya?
Bagaimana kalau pengalaman yang saya bangun selama bertahun-tahun menjadi tidak relevan?
Bagaimana kalau semua orang bisa melakukan hal yang sama dengan bantuan AI?
Semakin lama saya menggunakan AI, semakin saya sadar bahwa kekhawatiran itu tidak sepenuhnya benar.
Karena AI memang bisa membantu membuat sesuatu.
Tetapi AI tidak tahu apa yang layak dibuat.
AI bisa membantu membuat aplikasi kasir.
Tetapi AI tidak pernah mengelola outlet.
AI bisa membantu membuat laporan keuangan.
Tetapi AI tidak pernah menghadapi masalah cash flow.
AI bisa membantu membuat dashboard.
Tetapi AI tidak pernah mengambil keputusan bisnis.
Di situlah pengalaman tetap berperan.
Dan justru menjadi semakin berharga.
Pelajaran Terbesar yang Saya Dapat
Hari ini saya tidak lagi melihat AI sebagai ancaman.
Saya melihatnya sebagai pengungkit.
Pengungkit yang memperbesar nilai dari pengalaman yang sudah saya miliki.
Dulu saya mengira AI akan menggantikan pengalaman.
Hari ini saya justru percaya bahwa AI membuat pengalaman menjadi semakin bernilai.
Karena AI bisa membantu membuat sesuatu.
Tetapi pengalaman membantu menentukan apa yang layak dibuat.
Dan sampai hari ini, aset terbesar saya bukan AI.
Aset terbesar saya adalah 14 tahun pengalaman sebelum mengenal AI.