• 5 Menit Baca • Oleh Untung Kasirin

Ketika Bendahara Masjid Menghubungi Saya Karena Hosting Habis

Vibe CodingAI Software DevelopmentAplikasi Kas MasjidKasMasjidFounder OS
Ketika Bendahara Masjid Menghubungi Saya Karena Hosting Habis

Metode vibe coding memungkinkan siapa saja membangun aplikasi bermanfaat seperti KasMasjid dengan cepat hanya menggunakan bantuan AI, tetapi kesuksesan jangka panjang aplikasi tersebut tetap bergantung pada manajemen operasional, keandalan server, dan pemeliharaan kode yang terencana.

Awalnya saya hanya ingin belajar membuat aplikasi dengan AI. Tidak pernah terpikir bahwa suatu hari saya akan dihubungi bendahara masjid karena aplikasi yang saya buat tiba-tiba tidak bisa diakses.

Beberapa waktu lalu saya menerima sebuah pesan LinkedIn.

Bukan tawaran proyek.

Bukan recruiter.

Bukan calon klien.

Yang menghubungi saya adalah seorang profesional yang juga menjadi bendahara masjid di lingkungan tempat tinggalnya.

Beliau mengabarkan bahwa aplikasi KasMasjid tidak bisa diakses.

Masalahnya terdengar sederhana.

Tetapi dampaknya tidak sederhana.

Aplikasi tersebut digunakan untuk pencatatan keuangan masjid sehari-hari.

Dan saat itu masjid sedang dalam proses renovasi.

Artinya transaksi pembangunan, pemasukan donasi, dan berbagai pengeluaran sedang aktif-aktifnya dicatat.

Ketika aplikasi tidak bisa dibuka, pekerjaan mereka ikut terganggu.

Saya membaca pesan itu beberapa kali.

Lalu terdiam.

Karena jujur saja, ketika pertama kali membuat KasMasjid, saya tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.

Awal Mula Saya Mengenal Vibe Coding

Saat membuat KasMasjid, saya bahkan belum tahu istilah vibe coding.

Saya hanya tahu satu hal: AI mempermudah jalan saya dalam belajar membuat aplikasi dengan AI.

Ternyata AI bisa membantu orang finance seperti saya membuat aplikasi.

Sebelumnya saya selalu berpikir bahwa membuat software adalah pekerjaan programmer.

Sementara saya sehari-hari berkutat dengan laporan keuangan, budgeting, cash flow (arus kas), dan audit.

Eksperimen pertama saya sangat sederhana.

Saya membuat aplikasi pencatatan keuangan pribadi menggunakan Telegram.

Datanya disimpan di Google Sheet.

Tidak canggih.

Tetapi cukup membuat saya sadar bahwa ide di kepala ternyata bisa diwujudkan menjadi aplikasi.

Dan sejak saat itu saya mulai ketagihan.

Dari Aplikasi Pribadi ke KasMasjid

Semakin sering bereksperimen, semakin besar keinginan saya untuk membuat aplikasi yang lebih lengkap.

Bukan sekadar bot Telegram.

Tetapi aplikasi yang benar-benar memiliki database, pengguna, laporan, dan berbagai fitur lain.

Istilah sekarang mungkin disebut aplikasi full stack.

Saat memikirkan aplikasi apa yang ingin saya buat, ingatan saya justru kembali ke masa lalu.

Ke sebuah masjid.

Lalu masjid yang lain.

Saat SMA, saya pernah tinggal di masjid selama hampir satu tahun.

Waktu itu orang tua saya tidak memiliki cukup uang untuk membayar kos.

Masjid menjadi tempat saya beristirahat dan menjalani hari-hari sekolah.

Beberapa tahun kemudian, ketika kuliah dan masih tinggal di Jatake, Tangerang, saya pernah kemalaman di Jakarta.

Tidak ada kendaraan untuk pulang.

Tidak ada tempat menginap.

Malam itu saya tidur di Masjid Nurul Iman, Blok M.

Mungkin karena pengalaman-pengalaman itulah, ketika harus memilih proyek pertama, saya langsung teringat masjid.

Saya ingin membuat sesuatu yang bermanfaat untuk masjid.

Ada alasan lain juga.

Saat itu saya punya mimpi membangun ERP (yang kelak menjadi cikal bakal Visia OS).

Dan menurut saya, pengelolaan keuangan masjid adalah titik awal yang bagus untuk belajar.

Ada pemasukan.

Ada pengeluaran.

Ada saldo.

Ada laporan.

Ada pengguna.

Ada pertanggungjawaban.

KasMasjid menjadi laboratorium pertama saya menuju mimpi yang lebih besar.

Begadang, Copy-Paste, dan Limit AI

Kalau hari ini melihat cara orang membangun aplikasi menggunakan Cursor, Claude Code, atau AI Agent, saya sering tersenyum sendiri.

Karena cara saya membangun KasMasjid jauh lebih primitif.

Saya bertanya ke ChatGPT.

Lalu copy hasilnya.

Tempel ke Notepad.

Dari Notepad saya copy lagi.

Lalu paste ke File Manager di cPanel.

Kalau error?

Balik lagi ke ChatGPT.

Tanya lagi.

Copy lagi.

Paste lagi.

Kadang harus pindah ke Gemini.

Lalu menjelaskan ulang konteksnya.

Kadang copy-paste kode dari ChatGPT ke Gemini.

Atau dari Gemini ke ChatGPT.

Begitu terus.

Berulang-ulang.

Pindah tools.

Pindah platform.

Pindah browser.

Pindah tab.

Dan sering kali begadang sampai pagi.

Ada kalanya saya terpaksa berhenti bukan karena lelah.

Tetapi karena limit AI sudah habis.

Akhirnya saya berlangganan versi berbayar.

Bukan karena gaya-gayaan.

Tetapi karena kalau tidak bayar, aplikasinya tidak akan pernah selesai.

Ketika Aplikasi Mulai Dipakai

Setelah aplikasi selesai, saya membuat satu postingan sederhana di LinkedIn.

Saya mengumumkan bahwa saya baru saja membuat aplikasi pencatatan keuangan gratis untuk masjid bernama KasMasjid.

Responnya di luar dugaan.

Banyak yang memberikan apresiasi.

Banyak yang mencoba.

Banyak juga yang menemukan bug.

Dan tentu saja ada yang skeptis.

“Akhirnya berbayar juga nanti.”

“Biasanya awalnya gratis.”

“Ujung-ujungnya subscription.”

Saya tidak terlalu mempermasalahkannya.

Karena saat itu fokus saya hanya satu.

Membuat aplikasinya bermanfaat.

Hari demi hari pengguna mulai bertambah.

Lalu bulan demi bulan.

Sampai akhirnya digunakan oleh lebih dari 150 masjid, musholla, majelis taklim, dan pengajian.

Ketika Hosting Habis

Lalu datanglah pesan LinkedIn yang saya ceritakan di awal.

Ternyata masalahnya bukan bug.

Bukan server rusak.

Bukan aplikasi error.

Hostingnya habis.

Dan yang lebih menyebalkan, saya tidak bisa langsung memindahkan aplikasi ke VPS.

Karena akses cPanel-nya juga sudah tidak aktif.

Artinya satu-satunya cara tercepat adalah memperpanjang hosting tersebut.

Masalahnya, saat itu kondisi backend saya sedang tipis.

Kalau orang startup billing runway.

Kalau saya bilang dompet.

Sebagai orang yang menulis buku Jago Cash Flow, kejadian ini seperti humor satir untuk diri saya sendiri - mengerti teori mengelola kas, tapi kas pribadi untuk hosting aplikasi sosial pun sedang ngepres.

Akhirnya saya menghubungi beberapa partner bisnis.

Saya bertanya sederhana.

Ada yang mau ikut berinfak untuk memperpanjang hosting KasMasjid?

Alhamdulillah.

Tidak sampai tiga puluh menit.

Ada orang baik yang langsung mentransfer dana untuk memperpanjang hosting.

Hosting aktif kembali.

Aplikasi hidup lagi.

Dan bendahara masjid tadi bisa kembali mengakses datanya.

Pelajaran yang Tidak Saya Duga

Banyak orang menganggap keberhasilan sebuah aplikasi diukur dari jumlah pengguna.

Jumlah transaksi.

Atau jumlah pendapatan.

Saya tidak mengatakan itu salah. Jika memakai kacamata bisnis, metrik-metrik tersebut memang penting untuk melihat proses penciptaan nilai atau value creation.

Tetapi pengalaman KasMasjid mengajarkan saya cara pandang yang berbeda.

Bagi saya, keberhasilan aplikasi terjadi ketika seseorang benar-benar membutuhkannya.

Ketika ada aktivitas nyata yang bergantung padanya.

Ketika ada orang yang repot karena aplikasi itu mati.

Ketika ada orang yang rela membantu agar aplikasi itu tetap hidup.

KasMasjid bukan aplikasi paling canggih yang pernah saya buat.

Tetapi sampai hari ini, KasMasjid tetap menjadi aplikasi yang paling dekat dengan hati saya.

Karena di balik setiap baris kodenya, ada rasa syukur kepada masjid-masjid yang pernah memberi saya tempat singgah ketika saya tidak punya tempat lain untuk pulang.

Untung Kasirin

Untung Kasirin

14 tahun di Accounting & Finance. Membangun Visia OS dan Pandawa AI untuk membantu bisnis bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih terukur. Penulis buku Jago Cash Flow. Baca selengkapnya

Butuh insight bisnis yang lebih personal? Silakan chat via WhatsApp langsung dengan saya.

Chat via WhatsApp