• 6 Menit Baca • Oleh Untung Kasirin

Pandawa AI dan 6 Archetype Pekerjaan Masa Depan

AI AgentAgentic AIFuture of WorkOrchestratorPandawa AIvibe coding
Pandawa AI dan 6 Archetype Pekerjaan Masa Depan

Di era AI saat ini, batasan profesi mulai menghilang dan memicu lahirnya pola kerja baru yang didasarkan pada archetype peran terdistribusi, bukan lagi jabatan konvensional kaku.

Beberapa hari lalu saya membaca tulisan Boris Cherny, creator Claude Code di Anthropic (yang dilansir oleh Business Insider).

Ada satu kalimat yang membuat saya berhenti scrolling.

“Roles are melting into a new kind of role.”

Ia bercerita tentang timnya. Engineer ikut memikirkan produk. Product manager ikut menulis prompt. Designer ikut bereksperimen dengan kode. Data scientist ikut membangun fitur.

Batas antar profesi mulai menghilang.

Beberapa hari sebelumnya saya juga membaca wawancara Dylan Field, CEO Figma. Pesannya kurang lebih sama - di masa depan, semakin banyak orang akan menjadi product builder. Bukan lagi spesialis yang dibatasi oleh job title, tetapi orang yang mampu berpindah dari satu disiplin ke disiplin lain sesuai kebutuhan.

Saya lalu bertanya pada diri sendiri.

Kalau memang begitu, apa sebenarnya bentuk tim di masa depan?

Lima Archetype, Bukan Lima Jabatan

Jawaban Boris menarik.

Menurutnya, kita sebaiknya berhenti melihat pekerjaan berdasarkan jabatan. Bukan lagi Software Engineer, Product Manager, atau Marketing Manager. Tetapi berdasarkan archetype.

Artinya bukan “apa jabatanmu?”, melainkan “apa pola kerjamu?”

Analogi sederhananya seperti dapur restoran. Ada orang yang senang mencoba resep baru. Ada yang ahli memastikan masakan siap disajikan saat jam makan siang. Ada yang pekerjaannya merapikan dapur supaya semuanya tetap efisien. Jabatan mereka mungkin sama-sama chef. Tetapi cara mereka bekerja berbeda.

Dari pengalamannya membangun Claude Code, Boris menemukan lima archetype:

  • Prototyper: Orang yang terus bereksperimen, membangun ide, menguji kemungkinan. Sebagian besar eksperimennya mungkin tidak pernah dirilis. Dan memang bukan itu tujuannya.
  • Builder: Orang yang mengambil prototype tadi lalu mengubahnya menjadi produk yang benar-benar bisa dipakai. Bukan sekadar demo. Tetapi production-ready.
  • Sweeper: Orang yang terus menyederhanakan sistem. Menghapus fitur yang tidak lagi diperlukan, merapikan kode, mengurangi kompleksitas.
  • Grower: Orang yang membawa produk bertemu pasar. Mengumpulkan feedback, mencari cara supaya produk dipakai lebih banyak orang.
  • Gardener: Orang yang memastikan sistem tetap sehat. Security, maintenance, reliability. Produk mungkin tidak bertambah fiturnya, tetapi tetap hidup bertahun-tahun.

Saya membaca lima archetype itu sampai selesai.

Lalu tanpa sadar membuka dashboard Telegram tempat Pandawa AI bekerja setiap hari.

Saya Tidak Sengaja Melakukan Mapping

Awalnya saya hanya iseng.

Saya mencoba mencocokkan lima archetype tadi dengan agent-agent yang saya bangun. Yudhis. Bima. Juna. Nakula. Sadewa.

Semakin lama saya melihatnya, semakin aneh rasanya.

Kok cocok?

  • Yudhis memang tugasnya mengeksplorasi, melakukan riset, menguji ide (mewakili Prototyper).
  • Bima memang membangun aplikasi, deploy, memperbaiki bug (mewakili Builder).
  • Juna memang fokus membawa produk bertemu pasar (mewakili Grower).
  • Nakula merapikan proses operasional (mewakili Sweeper).
  • Sadewa menjaga kesehatan bisnis melalui cash flow dan finance (mewakili Gardener).

Saya berhenti beberapa menit.

Karena baru sadar satu hal.

Saya tidak pernah mendesain Pandawa berdasarkan tulisan Boris. Waktu membangun Pandawa, saya bahkan belum pernah membaca artikelnya. Tetapi hasil akhirnya hampir identik dengan bagaimana saya membangun VISIA sebagai Agentic Company.

Mungkin memang ada pola kerja yang muncul secara alami ketika kita mencoba membangun sistem yang efektif. Entah itu tim manusia di Anthropic, atau tim AI agent yang saya bangun sendiri. Terlebih, perjalanan saya mempelajari AI dan bertransisi dari akuntansi ke orkestrasi AI menunjukkan bahwa pola-pola orkestrasi ini krusial untuk membuat AI benar-benar bekerja bagi bisnis.

Lalu Saya Bingung

Tetapi ada satu hal yang mengganjal.

Pandawa bukan lima agent. Pandawa ada enam.

Lalu, Kresna masuk yang mana?

Saya mencoba memasukkannya ke semua archetype. Bukan Prototyper. Bukan Builder. Bukan Sweeper. Bukan Grower. Bukan Gardener.

Tidak ada yang benar-benar pas.

Beberapa hari saya biarkan pertanyaan itu menggantung. Sampai akhirnya saya sadar. Mungkin masalahnya bukan pada Kresna. Mungkin saya sedang memaksakan Kresna masuk ke kategori yang memang bukan tempatnya.

Kresna Bekerja di Lapisan yang Berbeda

Lima archetype Boris semuanya bergerak secara vertikal. Masing-masing memiliki domain. Ada yang fokus membangun. Ada yang fokus merawat. Ada yang fokus bertumbuh.

Kresna berbeda.

Ia tidak memiliki domain. Ia memiliki konteks.

Semakin saya menjalankan Pandawa setiap hari, semakin jelas fungsi sebenarnya:

  1. Menghubungkan konteks: Setiap agent hanya melihat dunianya sendiri. Yudhis sibuk melakukan riset. Sadewa sibuk menghitung dampak finansial. Bima sibuk membangun aplikasi. Kalau tidak ada yang menghubungkan ketiganya, semua output itu benar, tetapi belum menjadi keputusan.
  2. Menentukan prioritas: AI bisa mengerjakan banyak hal secara paralel. Masalahnya bukan kemampuan. Masalahnya memilih. Mana yang paling penting dikerjakan hari ini? Mana yang bisa ditunda? Mana yang saling bergantung? Semua itu bukan lagi pekerjaan spesialis. Melainkan pekerjaan orkestrasi.
  3. Menyatukan hasil: Setiap agent menghasilkan jawaban. Tetapi sebagai founder, saya tidak membutuhkan lima jawaban. Saya membutuhkan satu gambaran utuh. Bukan sekadar mengumpulkan laporan, tetapi menyatukan semuanya menjadi satu keputusan.
  4. Menemukan yang belum ada: Ini yang paling menarik. Kresna sering kali bukan memperbaiki sesuatu, tetapi menyadari ada sesuatu yang belum dikerjakan siapa pun. Blind spot. Gap. Pertanyaan yang belum pernah ditanyakan. Dan justru dari sanalah pekerjaan baru sering muncul.

Saya Tidak Sedang Menambah Archetype

Saya tidak sedang mengatakan Boris salah. Justru sebaliknya. Tulisan beliau membantu saya memahami Pandawa dengan cara yang sebelumnya tidak pernah saya sadari.

Tetapi pengalaman menjalankan multi-agent membuat saya melihat satu lapisan lagi.

Kalau lima archetype tadi menjelaskan siapa yang mengerjakan pekerjaan, saya merasa masih ada satu archetype yang menjelaskan siapa yang menyatukan semuanya.

Saya menyebutnya: Orchestrator.

Mungkin Inilah Pekerjaan Baru Founder

Yang paling menarik, perubahan ini juga mengubah pekerjaan saya.

Dulu saya berpikir tugas founder adalah mengerjakan semuanya. Menjual. Membangun produk. Mengurus operasional. Mengawasi keuangan.

Hari ini saya justru semakin jarang melakukan semua itu secara langsung. Bukan karena pekerjaannya hilang. Tetapi karena sebagian besar sudah dikerjakan oleh agent.

Pekerjaan saya sekarang lebih banyak berpindah ke hal lain. Menghubungkan konteks. Menentukan prioritas. Menyatukan berbagai sudut pandang. Menemukan blind spot.

Saya teringat artikel yang saya tulis beberapa waktu lalu tentang tiga hal yang tidak bisa saya delegasikan kepada AI: Keputusan, Relasi, Arah.

Semakin saya pikirkan, Orchestrator ternyata adalah perwujudan dari tiga hal itu.

Mungkin Masa Depan Tim Memang Seperti Ini

Beberapa menit setelah selesai membaca tulisan Boris, saya kembali membuka dashboard Telegram.

Notifikasi masih terus berdatangan. Yudhis selesai melakukan riset. Bima selesai memperbaiki bug. Sadewa mengirim analisis cash flow. Juna menyelesaikan landing page. Nakula merapikan operasional.

Saya hanya melihat semuanya berjalan.

Lalu saya sadar.

Mungkin masa depan pekerjaan bukan lagi tentang siapa yang paling ahli di satu bidang. Melainkan siapa yang paling mampu mengorkestrasi banyak kecerdasan menjadi satu arah.

Dan mungkin, itulah pekerjaan saya sekarang.

Bukan lagi menjadi orang yang mengerjakan semuanya.

Tetapi menjadi Orchestrator.

Untung Kasirin

Untung Kasirin

14 tahun di Accounting & Finance. Membangun Visia OS dan Pandawa AI untuk membantu bisnis bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih terukur. Penulis buku Jago Cash Flow. Baca selengkapnya

Butuh insight bisnis yang lebih personal? Silakan chat via WhatsApp langsung dengan saya.

Chat via WhatsApp