4 Menit Baca Oleh Untung Kasirin

Setelah AI Agent Mulai Bekerja Sendiri, Saya Mulai Khawatir

AI AgentAgentic AIAI GovernanceMulti Agent SystemHuman in the LoopOrganizational Intelligence
Setelah AI Agent Mulai Bekerja Sendiri, Saya Mulai Khawatir

Penerapan AI agent dalam sistem operasional bisnis memberikan peningkatan produktivitas yang luar biasa, namun membutuhkan tata kelola (AI governance) dan mekanisme kontrol (Human-in-the-Loop) yang kuat untuk mencegah risiko kesalahan pengambilan keputusan secara otonom.

Awalnya saya senang ketika AI Agent mulai mengambil alih pekerjaan saya. Sampai suatu hari saya menyadari bahwa kecerdasan bukan lagi masalah terbesar. Tata kelola justru jauh lebih penting.

Beberapa bulan terakhir saya sedang membangun sesuatu yang cukup personal.

Namanya Pandawa AI.

Sebuah tim AI Agent yang saya gunakan sehari-hari untuk membantu berbagai pekerjaan.

Ada yang fokus riset.

Ada yang fokus produk.

Ada yang fokus sales.

Ada yang fokus operasional.

Ada yang fokus cash flow.

Struktur pembagian tugas ini sengaja saya buat selaras dengan VVC Framework yang menjadi basis operasional bisnis kami.

Semuanya berjalan melalui Telegram.

Artinya saya tidak harus selalu berada di depan laptop.

Dan jujur saja, pengalaman ini mengubah cara saya bekerja.

Hidup Menjadi Jauh Lebih Fleksibel

Banyak pekerjaan yang sebelumnya harus saya kerjakan sendiri, sekarang bisa didelegasikan ke agent.

Banyak pekerjaan yang sebelumnya mengharuskan saya membuka laptop, sekarang bisa dilakukan dari mana saja.

Saya pernah menulis artikel blog sambil mengantar anak sekolah.

Membuat landing page sambil belanja sayuran.

Memperbaiki bug aplikasi sambil menyeruput kopi.

Melakukan riset akademik.

Riset pasar.

Analisis keuangan.

Bahkan saat sedang rebahan.

Sebagai orang yang selama bertahun-tahun terbiasa bergelut di dunia akuntansi dan keuangan di depan spreadsheet, perubahan ini terasa luar biasa.

Untuk pertama kalinya saya merasa memiliki tim yang selalu siap membantu kapan pun dibutuhkan.

Lalu Mulai Muncul Masalah

Masalahnya bukan karena agent tidak pintar.

Justru sebaliknya.

Semakin pintar agent tersebut, semakin banyak hal yang bisa dia lakukan.

Dan di situlah masalah mulai muncul.

Beberapa kali agent memberikan informasi yang tidak akurat.

Beberapa kali agent berhalusinasi.

Beberapa kali agent melakukan tindakan yang sebenarnya tidak saya perintahkan.

Ada juga momen ketika agent mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali.

Padahal kesalahan tersebut sudah pernah diperbaiki sebelumnya.

Awalnya saya mengira masalahnya ada pada model AI.

Mungkin modelnya kurang pintar.

Mungkin prompt-nya kurang lengkap.

Mungkin memorinya kurang panjang.

Tetapi semakin lama saya mengamati, semakin saya sadar bahwa masalah utamanya bukan di sana.

Kecerdasan Bukan Masalah Terbesar

Di dunia AI, sebagian besar diskusi masih berkisar pada satu hal.

Model mana yang paling pintar.

Model mana yang paling cepat.

Model mana yang paling murah.

Saya juga pernah terjebak dalam diskusi yang sama.

Tetapi setelah menggunakan AI Agent setiap hari, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Ketika agent sudah cukup pintar untuk bekerja sendiri, masalahnya bukan lagi kecerdasan.

Masalahnya adalah tata kelola (governance).

Karena agent yang sangat pintar tetap bisa membuat kesalahan.

Agent yang sangat pintar tetap bisa mengambil keputusan yang salah.

Agent yang sangat pintar tetap bisa merusak sesuatu jika diberikan kebebasan tanpa batas.

Dan semakin banyak agent yang kita miliki, semakin besar pula risiko tersebut.

Governance Before Intelligence

Dari situlah saya mulai menyusun sebuah prinsip sederhana.

Governance Before Intelligence.

Tata kelola lebih dulu.

Kecerdasan belakangan.

Sebelum memikirkan model AI mana yang digunakan, saya mulai memikirkan:

Apa yang boleh dilakukan agent?

Apa yang tidak boleh dilakukan agent?

Kapan agent harus meminta persetujuan manusia?

Kapan agent boleh mengambil keputusan sendiri?

Bagaimana agent berkolaborasi dengan agent lain?

Bagaimana cara memastikan kesalahan yang sama tidak terus berulang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata jauh lebih penting daripada memilih model AI terbaru.

Dari Pengalaman Menjadi Playbook

Karena itulah saya mulai mendokumentasikan semua pelajaran yang saya dapatkan.

Bukan sebagai dokumentasi teknis.

Utamanya sebagai panduan operasional.

Sebuah playbook.

Namanya sederhana:

AI Agent Playbook

Di dalamnya saya mencoba merangkum berbagai hal yang saya pelajari selama membangun Pandawa AI.

Mulai dari alasan mengapa banyak AI Agent gagal.

Bagaimana struktur agent yang saya gunakan.

Mengapa Human-in-the-Loop tetap penting.

Bagaimana agent berkolaborasi.

Sampai bagaimana membangun sesuatu yang saya sebut sebagai Organizational Intelligence (yang juga saya kembangkan melalui Visia OS) menggunakan framework IMPIAN (Input, Memory, Process, Insight, Action, Network).

Bukan sekadar chatbot hasil vibe coding semalam.

Bukan sekadar automation.

Tetapi sistem yang membantu organisasi berpikir, berkolaborasi, dan bekerja lebih baik.

Pelajaran yang Saya Dapat

Awalnya saya mengira tantangan terbesar dalam membangun AI Agent adalah membuatnya cukup pintar.

Hari ini saya justru percaya sebaliknya.

Model AI akan terus menjadi lebih pintar.

Setiap bulan ada model baru.

Setiap bulan benchmark berubah.

Tetapi tata kelola tidak berkembang secepat itu.

Dan ketika AI Agent mulai memiliki kemampuan untuk bertindak, berkolaborasi, dan mengambil keputusan, tata kelola menjadi jauh lebih penting daripada kecerdasan.

Karena pada akhir cerita, organisasi tidak gagal karena kekurangan kecerdasan.

Organisasi biasanya gagal karena kekurangan sistem.

Dan menurut saya, pelajaran yang sama juga berlaku untuk AI Agent.

Bukan seberapa pintar agent yang menentukan hasil akhirnya.

Tetapi seberapa baik kita merancang sistem tempat agent tersebut bekerja.

Untung Kasirin

Untung Kasirin

14 tahun di Accounting & Finance. Membangun Visia OS dan Pandawa AI untuk membantu bisnis bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih terukur. Penulis buku Jago Cash Flow. Baca selengkapnya

Butuh insight bisnis yang lebih personal? Silakan chat via WhatsApp langsung dengan saya.

Chat via WhatsApp