Di era kecerdasan buatan, optimasi tidak lagi hanya berfokus pada algoritma mesin pencari tradisional (SEO), melainkan beralih ke bagaimana konten kita dipercaya dan dirujuk oleh mesin generatif (GEO).
Belakangan ini ada dua berita menarik yang membuat saya berhenti sejenak dan berpikir ulang tentang masa depan internet.
Berita pertama saya baca beberapa minggu yang lalu dari Cloudflare.
Untuk pertama kalinya, jumlah request dari bot AI melampaui manusia. Sekitar 57,5% dari seluruh request yang melewati jaringan mereka berasal dari bot. Di Indonesia angkanya memang sedikit lebih rendah, tetapi trennya sama. AI semakin banyak membaca internet dibanding manusia. Detail riset ini bisa dibaca di laporan Cloudflare AI Traffic 2026.
Lalu, di pekan ini saya membaca berita kedua.
Anthropic dilaporkan melakukan crawling sekitar 70.900 halaman web untuk setiap satu referral yang mereka kirim kembali ke sebuah website. Angka itu dari data tahun 2025 - dan sudah terasa mengkhawatirkan. Laporan investigasi mendalam ini sempat ramai dibahas di Business Insider.
Tahun 2026 angkanya membaik. Anthropic turun ke 2.500:1. OpenAI berada di 152:1. Bahkan Perplexity yang bisnisnya berbasis kutipan aktif masih berada di 32,7:1.
AI membaca ribuan halaman. Lalu hanya mengirim satu pengunjung kembali.
Saya membaca dua berita itu sambil membuka dashboard analytics lebih dari sepuluh website yang saya kelola.
Jujur, reaksi pertama saya adalah cemas.
Perjalanan Menulis Blog sejak 2016
Saya sebenarnya mulai menulis artikel blog sejak tahun 2016. Waktu itu, proyek pertama saya adalah mencoba optimasi SEO untuk website jagoexcel.com. Kejutan menyenangkan datang ketika beberapa artikel di website tersebut berhasil nangkring di halaman pertama Google, bahkan saya sempat merasakan gajian dari Google AdSense selama beberapa bulan. Pengalaman itu memicu semangat saya untuk menulis banyak artikel blog lain, terutama yang bertema Excel, Akuntansi, dan Keuangan.
Selama bertahun-tahun setelahnya, aktivitas menulis ini memang mengalami pasang surut hingga tahun 2023. Bahkan di tahun 2024 dan 2025, saya sempat vakum sepenuhnya sebelum akhirnya mulai aktif menulis lagi di tahun 2026 ini.
Di luar blog pribadi, beberapa tahun terakhir saya juga banyak menghabiskan waktu membangun website - sebagian milik sendiri, sebagian lagi milik perusahaan tempat saya bekerja. Kami menulis artikel, menyusun struktur heading, memilih keyword, membuat internal linking, dan mengoptimasi meta description.
Semua itu dilakukan dengan harapan yang sederhana - supaya orang menemukan jawaban melalui Google.
Lalu saya mulai bertanya. Kalau sekarang AI membaca artikel kita, merangkum jawabannya, kemudian pengguna tidak lagi mengunjungi website, apakah semua pekerjaan itu menjadi sia-sia?
Apakah SEO benar-benar akan mati?
Ternyata Data Mengatakan Hal yang Berbeda
Karena penasaran, saya tidak berhenti pada rasa cemas. Saya membuka data.
Saya membandingkan performa beberapa website selama beberapa bulan terakhir. Hasilnya justru membuat saya cukup terkejut.
Traffic organik tidak turun. Beberapa website justru mengalami peningkatan. Yang lebih menarik lagi, sumber pengunjung mulai berubah. Tidak semuanya datang dari Google.
Saya mulai melihat AI Overview menampilkan halaman kami sebagai referensi. Beberapa artikel juga mulai menerima referral dari ChatGPT. Jumlahnya memang belum besar. Tetapi dua tahun lalu angka itu bahkan tidak ada.
Data dari Adobe juga menarik: pengunjung yang datang melalui AI ternyata mengonversi 42% lebih baik dari rata-rata pengunjung biasa. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu di halaman, membaca lebih banyak konten, dan lebih siap mengambil keputusan.
Di titik itu saya mulai sadar. Mungkin pertanyaan “apakah SEO mati?” memang sejak awal sudah salah.
Yang Berubah Bukan SEO
Yang berubah adalah cara orang menemukan informasi.
Dulu alurnya sederhana: pengguna membuka Google, mengetik keyword, mengklik website, membaca artikel.
Hari ini alurnya mulai berubah: pengguna bertanya kepada AI, AI membaca banyak website, AI merangkum jawaban, lalu kalau membutuhkan informasi yang lebih dalam, AI mengarahkan pengguna ke sumber aslinya.
Website tidak lagi selalu menjadi tujuan akhir. Website mulai menjadi sumber kebenaran.
Dan menurut saya, pergeseran ini jauh lebih besar daripada sekadar perubahan algoritma Google.
Saya Mulai Mengenal GEO
Belakangan muncul istilah baru yang menurut saya sangat menarik: Generative Engine Optimization, atau GEO.
Kalau SEO bertanya, “Bagaimana supaya website saya muncul di halaman pertama Google?” maka GEO bertanya, “Bagaimana supaya AI memilih website saya sebagai sumber jawaban?”
Dua pertanyaan yang berbeda. Tetapi saling melengkapi.
SEO membantu orang menemukan kita. GEO membantu AI mempercayai kita.
Dan di masa depan, keduanya akan berjalan berdampingan.
Apa yang Saya Lihat di Lapangan
Selama beberapa bulan terakhir saya mulai memperhatikan pola yang cukup konsisten.
Artikel yang memiliki definisi yang jelas di awal, struktur heading yang rapi, tabel, dan penjelasan yang sistematis lebih sering muncul dalam jawaban AI.
Tetapi ada hal lain yang lebih menarik.
Artikel yang paling sering saya lihat dirujuk bukan artikel yang paling panjang. Bukan juga artikel yang paling banyak keyword. Melainkan artikel yang memiliki sesuatu yang tidak bisa dibuat hanya dengan merangkum internet.
Pengalaman. Data asli. Eksperimen. Studi kasus. Cerita yang benar-benar dialami penulisnya.
Misalnya ketika saya merancang dari akuntansi ke orkestrasi AI untuk sistem internal, atau pengalaman men-deploy Pandawa AI di tiga perusahaan sekaligus. Atau ketika saya menemukan konflik systemd yang membuat agent restart setiap lima menit di tengah malam.
AI bisa merangkum banyak hal. Tetapi AI tidak bisa mengarang pengalaman yang benar-benar terjadi.
Di situlah saya mulai percaya bahwa pengalaman pribadi justru semakin bernilai.
Cara Saya Menulis Sekarang Berubah
Kalau dulu saya hanya berpikir tentang Google, sekarang saya menulis dengan dua pembaca sekaligus.
Pembaca pertama adalah manusia. Pembaca kedua adalah AI.
Karena itu setiap artikel sekarang saya usahakan memiliki beberapa hal: definisi yang jelas, struktur yang rapi, data yang bisa diverifikasi, dan yang paling penting, pengalaman yang benar-benar saya alami sendiri.
Saya tidak lagi hanya mengoptimasi artikel untuk mesin pencari. Saya juga mengoptimasinya supaya mudah dipahami oleh mesin generatif.
SEO dan GEO. Bukan memilih salah satu. Tetapi menggabungkan keduanya.
Ketakutan Itu Wajar. Tetapi Data Lebih Jujur.
Saya mengerti kenapa banyak orang mengatakan SEO akan mati. Jujur, saya sendiri sempat berpikir seperti itu.
Tetapi setelah melihat data beberapa bulan terakhir, kesimpulan saya berubah.
Yang mati bukan SEO. Yang berubah adalah distribusi perhatian.
Dulu orang datang langsung ke website. Sekarang mereka sering bertemu AI terlebih dahulu. Tetapi AI tetap membutuhkan sumber. Dan sumber itu tetap berasal dari orang-orang yang mau menulis, meneliti, bereksperimen, lalu membagikan hasilnya.
Kalau semua orang berhenti membuat konten karena takut AI mengambilnya, AI juga akan kehabisan sesuatu untuk dipelajari.
Jadi menurut saya, masa depan bukan lagi tentang bertanya, “Apakah SEO akan mati?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, “Apakah tulisan kita cukup dipercaya sehingga AI bersedia merekomendasikannya?”
Karena pada akhirnya, baik Google maupun AI sedang mencari hal yang sama. Bukan sekadar halaman yang penuh keyword. Tetapi sumber yang layak dipercaya.
Karena itu saya tetap memilih menulis. Bukan karena saya ingin mengejar algoritma Google. Tetapi karena saya ingin meninggalkan sumber yang layak dirujuk, baik oleh manusia maupun oleh AI.
Satu hal yang mungkin lucu untuk disebutkan di sini: artikel ini sendiri ditulis dengan bantuan AI. Saya vakum membuat artikel blog sepanjang 2024 dan 2025. Baru di 2026 saya aktif lagi - dan salah satu yang membuat saya bisa aktif lagi adalah karena AI membantu prosesnya (mirip dengan metode Spec-Driven Development yang saya terapkan pada beberapa project belakangan).
Ironis? Mungkin. Tetapi menurut saya justru itulah intinya. AI tidak menggantikan penulis. AI membantu penulis yang sempat berhenti untuk mulai lagi.